Drama Korea (Drakor) Sisyphus: The Myth (2021) hadir dengan janji besar: menjadi salah satu drama sci-fi action paling ambisius yang pernah diproduksi di Korea Selatan. Dibintangi oleh Cho Seung Woo sebagai Han Tae Sul, seorang insinyur jenius, dan Park Shin Hye sebagai Kang Seo Hae, seorang pejuang dari masa depan, serial ini berpusat pada konsep perjalanan waktu dan upaya mencegah bencana apokaliptik.
Tidak seperti drakor fantasi lainnya yang mengandalkan sihir atau mitologi, Sisyphus berpegangan pada ilmu pengetahuan fiksi (sci-fi) yang keras (walaupun dengan lisensi dramatis). Oleh karena itu, kesuksesan naratifnya sangat bergantung pada kualitas Visual Effect (VFX) yang digunakan untuk menghidupkan dunia distopia masa depan, teknologi perjalanan waktu (mesin Uploader), dan adegan aksi yang intens. Dalam konteks produksi drakor, di mana anggaran seringkali lebih kecil dibandingkan film Hollywood, ambisi visual Sisyphus menjadikannya studi kasus yang menarik mengenai sejauh mana teknologi VFX Korea telah berkembang.

Analisis VFX Kunci dalam Sisyphus: The Myth
VFX dalam Sisyphus dapat dibagi menjadi tiga kategori utama, yang masing-masing memiliki peran krusial dalam membangun kredibilitas cerita sci-fi ini.
1. Mesin Uploader dan Efek Perjalanan Waktu
Inti plot Sisyphus adalah mesin Uploader dan Downloader, perangkat yang digunakan untuk mengirim dan menerima manusia serta objek melintasi waktu.
- Desain Mesin: Desain fisik mesin itu sendiri (berbentuk semacam pod besar dengan lampu dan panel yang berkedip) dieksekusi dengan baik, terasa futuristik dan meyakinkan.
- Efek Lintas Waktu: Efek visual saat karakter “di-download” atau “di-upload” adalah yang paling penting. Efek ini melibatkan distorsi digital, perubahan warna, dan efek transisi yang cepat dan berenergi. Secara umum, efek transisi waktu ini cukup solid dan memenuhi standar genre sci-fi modern, meskipun terkadang ada sedikit inkonsistensi dalam kualitas rendering latar belakang.
2. Dunia Distopia Masa Depan
Banyak adegan dalam Sisyphus membawa penonton ke masa depan yang hancur, sebuah dunia yang dipenuhi reruntuhan, cuaca ekstrem, dan kendaraan militer.
- Set Extension dan Matte Painting: Untuk menciptakan latar belakang kota yang hancur atau pemandangan alam yang terdistorsi, tim produksi mengandalkan teknik set extension dan matte painting digital. Teknik ini berhasil menciptakan skala yang masif dan suasana yang muram.
- Kritik: Meskipun ambisius, beberapa adegan CGI (Computer-Generated Imagery) dari set extension tampak kurang terintegrasi sempurna dengan bidikan live-action, terutama dalam adegan siang hari yang terang, yang sedikit mengurangi imersi. Namun, secara keseluruhan, pembangunan dunia distopia ini jauh melampaui standar drakor biasa.
3. Action Sequences dan Penggunaan VFX Praktis
VFX di Sisyphus juga digunakan untuk meningkatkan adegan aksi, terutama yang melibatkan senjata futuristik dan ledakan.
- Penembakan dan Ledakan: Efek tembakan (muzzle flashes) dan ledakan sering kali diperkuat secara digital. Dalam adegan kejar-kejaran, compositing (penggabungan berbagai elemen visual) digunakan untuk menempatkan karakter di lingkungan yang sangat berbahaya.
- Integrasi dengan Live Action: Bagian terbaik dari VFX Sisyphus adalah bagaimana ia sering diintegrasikan dengan efek praktis, seperti set fisik yang rumit dan koreografi pertarungan yang intens. Hal ini membuat adegan aksi terasa lebih membumi, meskipun efek digital tetap hadir.
Batasan dan Inovasi dalam Produksi Drakor
Sejauh mana teknologi VFX digunakan dalam Sisyphus: The Myth menunjukkan lompatan besar dalam kemampuan produksi Korea, meskipun masih menghadapi batasan yang lumrah dalam produksi serial TV.
Keberhasilan dan Inovasi
Sisyphus berhasil membuktikan bahwa drama Korea mampu menangani konsep sci-fi yang berat dengan tuntutan visual yang tinggi. Keberanian untuk mendedikasikan banyak episode untuk world-building yang sangat bergantung pada VFX adalah inovasi tersendiri. Efek bullet time dan adegan pertarungan yang kompleks juga menunjukkan peningkatan signifikan dalam sinkronisasi VFX dengan cinematography.
Tantangan Produksi
Kritik utama terhadap VFX Sisyphus adalah adanya inkonsistensi. Dalam beberapa adegan penting (terutama yang melibatkan objek terbang atau tembakan luas kota), kualitasnya terlihat sedikit di bawah standar film blockbuster Hollywood. Inkonsistensi ini kemungkinan besar berasal dari jadwal produksi serial TV yang ketat dan tekanan untuk menyelesaikan ratusan bidikan VFX dalam waktu yang terbatas.
Sebuah Langkah Maju yang Berani

Sisyphus: The Myth adalah sebuah tonggak sejarah bagi drakor sci-fi. Meskipun tidak sempurna dan menghadapi tantangan budget serta waktu yang melekat pada produksi serial, drama ini menunjukkan ambisi visual yang luar biasa. VFX yang digunakan, khususnya pada desain mesin Uploader dan penciptaan latar belakang distopia, sukses membuat narasi perjalanan waktu terasa meyakinkan dan intens. Sisyphus membuktikan bahwa teknologi VFX di Korea Selatan kini cukup matang untuk membawa cerita-cerita sci-fi yang kompleks dan besar ke layar kaca, membuka jalan bagi genre-genre yang lebih berani di masa depan drakor.
